Senin, 08 Maret 2021

PEMBELAJARAN SOSIAL-EMOSIONAL (MURIDKU PENYEMANGATKU)

 


 

PEMBELAJARAN SOSIAL-EMOSIONAL

“MURIDKU PENYEMANGATKU”

 

Oleh :

Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd. (SMP Negeri 3 Denpasar)

Calon Guru Penggerak Kota Denpasar

 

Selamat pagi bu guru… Ahhh rasanya aku sangat merindukan suara itu. Ingin rasanya ku mendengarkan secara tatap muka sapaan yang pastinya berisi senyuman sumringah mereka. Murid-muridku adalah penyemangatku untuk selalu belajar mengembangkan diri. Murid-muridku adalah kebanggaanku dan tentunya mereka adalah salah satu sumber kebahagiaanku. Guru akan tetap menjadi guru, sedangkan murid tidak akan tetap menjadi murid. Mereka akan terus berkembang dan akan menemukan jalan kesuksesan masing-masing. Belajar itu adalah sebuah proses, proses yang akan selalu mereka kenang, tidak hanya berdampak pada saat ini tetapi juga kelak dikemudian hari. Aku layaknya seorang manusia biasa yang mempunyai emosi, wajar bukan ketika ada murid yang melanggar kesepakatan berkali-kali untuk dihukum dan dimarah? Ya itu benar, tetapi benar kala itu. Kala paradigma lama masih berlaku. Saat ini paradigma baru sedang kita jalani. Tidak ada lagi istilah hukuman yang ada budaya positif. Tidak ada lagi kemarahan, yang ada mengelola emosi dan fokus melalui kesadaran penuh. Beruntung sekali bisa mengikuti program guru penggerak. Banyak materi baru yang didapatkan, wawasan bertambah, dan pikiran mulai terbuka. Tentunya hal tersebut tidak akan saya simpan sendiri. Akan saya bagikan melalui tulisan sederhana ini -koneksi antar materi. Selamat membaca! Semoga bermanfaat.

 

REFLEKSI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA (KHD)

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.

 

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Lumpkin (2008) menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka memercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka.

Guru adalah tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri murid-muridnya. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut. Guru dapat mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik) maupun yang sifatnya psikis (intrinsik). Emosi adalah bagian utama dari lingkungan psikis yang dapat dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru.

 

VISI DAN MISI GURU PENGGERAK

Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan karena diperlukan perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Di sekolah, pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik yang telah ada di sekolah, mencari cara agar bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidak-adaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif tersebut, sekolah kemudian menyelaraskan hal positif atau kekuatan tersebut  dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas sekolah.

 

PENGANTAR BUDAYA POSITIF

Kita seringkali memandang bahwa hukuman adalah bentuk yang sama dengan proses pen-disiplin-an dan memberikan hukuman sebagai salah satu langkah dalam proses disiplin murid. Padahal, disiplin dan hukuman memiliki arti yang berbeda dan memberikan efek yang sangat berbeda dalam pembentukan diri murid. 

Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku  murid, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari.

Tujuan akhir dari disiplin adalah agar siswa memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri dan orang lain. Disiplin sebaiknya juga menerapkan hal-hal berikut (1) fokus dalam mengoreksi dan mendidik, (2) mendorong tanggung jawab dan disiplin diri, dan (3) jangan pernah merusak atau membahayakan martabat pelajar atau pendidik.

 

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.  Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid, dan profil belajar murid.

 

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan. Artinya, kita dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing) dan latihan bergerak sadar (mindful movement).

Well-being (kesejahteraan hidup) adalah sebuah kondisi di mana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.

Gambar 1. Hubungan Mindfulness dan Empati dan Resiliensi (Hawkins, 2011)

Perasaan aman dan rasa percaya dalam diri murid akan membantu murid dalam proses pembelajaran dan relasi dengan guru di sekolah. Murid dapat menumbuhkan kesadaran diri tentang perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai yang dimiliki dengan lebih baik dan kesadaran sosial yang lebih baik yang didasarkan pada perhatian yang bertujuan akan membantu murid dalam memproses informasi secara lebih baik dalam proses pembelajaran.  Jika murid dapat mengikuti proses pembelajaran secara lebih baik, maka secara perlahan tumbuh optimisme atau rasa percaya dalam dirinya.

 


Gambar 2. Pembelajaran Sosial dan Emosional Berbasis Kesadaran Penuh 

Latihan STOP dapat membantu dalam mengelola emosi di saat berada pada situasi menantang maupun tertekan. STOP adalah kepanjangan dari (1) Stop, yaitu berhenti artinya kalian hentikan segala sesuatu yang sedang kalian lakukan; (2) Take a deep breath, yaitu tarik nafas dalam artinya sadari nafas masuk, sadari nafas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Lakukan 2-3 kali; (3) Observe, yaitu amati artinya amati apa yang sedang kalian rasakan pada tubuh. Amati perut yang mengembang sebelum membuang nafas. Amati perut yang mengempes saat kalian membuang nafas; (4) Proceed, yaitu lanjutkan artinya latihan selesai, silahkan lanjutkan kembali aktivitas kalian dengan perasaan yang lebih tenang.



Gambar 3. Lima Kompetensi Sosial-Emosional CASEL

 Dengan mengenali keenam emosi dasar pada manusia (takut, jijik, marah, kaget, bahagia, sedih) akan sangat membantu dalam mengelola emosi tersebut serta mencari jalan keluar untuk mengatasinya. Latihan STOP adalah satu cara untuk mengelola emosi apabila dilakukan dengan kesadaran penuh. Selain itu, penting juga untuk menumbuhkan kesadaran diri baik dalam pengelolaan emosi maupun pengelolaan diri dalam mengelola fokus. Kesadaran sosial juga sangat diperlukan karena akan mampu membangun rasa empati dan dapat menumbuhkan kemampuan untuk menempatkan diri. Daya lenting dalam CASEL juga memiliki andil yang besar. Resiliensi atau daya lenting, yaitu kemampuan individu untuk merespons tantangan atau trauma yang dihadapi dengan cara-cara sehat dan produktif. Terakhir tentang pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Jadi CASEL, STOP, dan enam emosi dasar manusia memiliki keterkaitan yang sangat kuat satu sama lain.

Pada hakekatnya semua materi yang disajikan dalam Pendidikan Guru Penggerak saling berhubungan dan saling bergantungan satu sama lain. Pengetahuan dan wawasan yang didapatkan akan menjadi dasar untuk mempraktekkannya di lapangan. Semoga guru penggerak bisa menjadi agen transformasi Pendidikan Indonesia.

 

#MerdekaBelajar

#GuruPenggerak

#BanggaMenjadiGuru

#MuridkuPenyemangatku

 

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

2. Ditjen GTK Kemendikbud RI.

3. Fasilitator Bapak Yuli Cahyono (Pak Yoel) dari P4TK PENJASBK yang selalu sabar membimbing saya.

4. Pendamping saya dalam PGP, Bapak I Gede Eka Saputra yang selalu sabar mendampingi.

5. Teman-teman kelompok 1 di kelas A yang selalu berbagi ilmu.

6. Kepala SMP Negeri 3 Denpasar atas segala dukungan yang diberikan.

7. Rekan sejawat yang selalu memotivasi.

8. Keluarga tercinta atas toleransi, kerja sama, dan motivasi yang diberikan. 

 

Denpasar, 8 Maret 2021

Calon Guru Penggerak Angkatan 1

 

Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd.

 


Senin, 15 Februari 2021

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI (KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1)

 

Gambar 1.

Koneksi antar materi modul Pendidikan Guru Penggerak (PGP)


        A.      Koneksi Antar Materi

Berdasarkan gambar 1 terkait koneksi antar materi dapat dijelaskan sebagai berikut. Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab, maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak”.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut adalah dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Pembelajaran berdiferensiasi memiliki tiga strategi, yaitu strategi diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Diperlukan pendidik yang dapat menerapkan pembelajaran diferensiasi tersebut dengan baik. Pendidik sejati harus memiliki nilai dan peran seorang guru penggerak, di antaranya mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid sehingga dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan baik. Selain itu, pendidik juga harus memiliki visi seorang guru penggerak dengan pendekatan inkuisi apresiatif melalui tahapan BAGJA. Penerapan budaya positif juga akan menunjang keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan KHD. Perencanaan yang matang, pelaksanaan yang baik, serta evaluasi (refleksi dan umpan balik) yang rutin terhadap pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan akan mengantarkan murid mencapai merdeka belajar yang sesungguhnya.


        B.      Pemetaan Kebutuhan Belajar Murid

Sebelum seorang guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, maka yang perlu dilakukan adalah melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid. Dengan adanya profil awal tersebut, maka akan membantu guru dalam memilih strategi diferensiasi yang dibutuhkan murid di kelas tersebut. Terdapat 3 aspek kebutuhan belajar murid, yaitu kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar murid.

(1) Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.  

Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik biasanya kita akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih dahulu. Saat guru mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas.  Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. 


Gambar 2.

The Equalizer (Tomlinson)


(2) Minat Murid

Kita tahu bahwa seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Ada murid yang minatnya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains, drama, memasak, dan sebagainya.  Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan di antaranya: 

  • Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar; 
  • Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran; 
  • Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan; 
  • Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.


                (3) Profil Belajar Murid

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain. 

Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.  Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil. Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:

Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.

Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.

Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).

Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).

Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on).


Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan kebutuhan belajar murid, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.


        C.      Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Ada tiga strategi diferensiasi yang dapat dilakukan, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Seorang guru bisa memilih salah satu strategi atau memadukan dua strategi maupun menggunakan ketiganya tergantung dari hasil pemetaan kebutuhan peserta didik serta kondisi sekolah.

Seorang guru hendaknya melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan 3 aspek, yaitu kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar murid. Selain itu ada tiga strategi berdiferensiasi yang dapat dilakukan oleh guru, yaitu (1) diferensiasi konten; (2) diferensiasi proses; dan (3) diferensiasi produk.  

Jika mendiferensiasikan konten berdasarkan kesiapan belajar murid maka bisa merujuk pada The Equalizer (Tomlinson). Dari Foundational menuju transformational atau dari concrete menuju abstract. Jika mendiferensiasikan konten berdasarkan minat murid dan profil belajar murid, maka sebaiknya guru menyiapkan berbagai sumber belajar yang disukai murid dan sesuai dengan gaya belajar mereka. Setelah melakukan pemetaan, yang harus dipikirkan bagaimana cara melakukan diferensiasi proses. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara (1) kegiatan berjenjang; (2) pertanyaan pemandu/tantangan; (3) membuat agenda individual untuk murid; (4) memvariasikan lama waktu menyelesaikan tugas; (5) mengembangkan kegiatan bervariasi yang mengakomodasi beragam gaya belajar; dan (6) menggunakan pengelompokan yang fleksibel. . Bagaimana cara mendiferensiasikan produk? (1) memberikan tantangan dan keragaman dan (2) memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

Berikut ini akan disajikan sebuah diagram frayer tentang pembelajaran diferensiasi sehingga dapat memudahkan guru untuk memahami dengan cepat maksud dan tujuan dari diterapkannya pembelajaran berdiferensiasi. 

 Gambar 3. 
Diagram frayer pembelajaran berdiferensiasi

        

        Demikian pemaparan tentang koneksi antar materi, pemetaan kebutuhan murid, dan pembelajaran berdiferensiasi. Semoga pemaparan yang disajikan dapat menambah wawasan dan dapat diterapkan dengan baik. Mohon kritik dan saran demi perbaikan artikel ini. 

           

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

2. Ditjen GTK Kemendikbud

3. Fasilitator Bapak Yuli Cahyono (Pak Yoel) dari P4TK PENJASBK yang selalu sabar membimbing saya.

4. Pendamping saya dalam PGP, Bapak I Gede Eka Saputra yang selalu sabar mendampingi.

5. Teman-teman kelompok 1 di kelas A yang selalu berbagi ilmu.

6. Kepala SMP Negeri 3 Denpasar atas segala dukungan yang diberikan.

7. Rekan sejawat yang selalu memotivasi.

8. Keluarga tercinta atas toleransi, kerja sama, dan motivasi yang diberikan. 

Jumat, 11 Desember 2020

PENGANTAR BUDAYA POSITIF (Koneksi Antar Materi pada Modul 1 dalam Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan I)

 

Peta Konsep Koneksi Antar Materi pada Modul 1


Pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20). Berdasarkan kutipan tersebut mengisyaratkan kita sebagai guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tetapi berdampak pada masyarakat.

Besarnya pengaruh Pendidikan dalam masa depan anak tidak bisa disangsikan lagi. Diperlukan pondasi yang kuat demi terwujudnya karakter yang baik sehingga membawa dampak baik pula bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) yang berkaitan dengan filosofi Pendidikan yang harus dijadikan pedoman di antaranya kodrat anak, kodrat zaman, dan budi pekerti. Kodrat Anak : Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak agar dapat memperbaiki laku hidupnya dan tumbuh kekuatan kodrat anak. Kodrat Zaman : Melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Budi Pekerti : Watak merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.

Demi terwujudnya pemikiran KHD diperlukan seorang guru yang memiliki nilai Mandiri, Kolaboratif, Reflektif, Inovatif, dan Berpihak pada Murid. Nilai-nilai tersebut bertujuan untuk menjadi bekal dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, bermakna, dan lahirnya murid dengan profil pelajar Pancasila. Contoh konkret dalam penerapan nilai-nilai tersebut adalah :

  1. MANDIRI  : Melaksanakan tanggungjawab sebagai pendidik  dengan mengembangkan kreatifitas yang dimiliki.
  2. KOLABORASI : Menerapkan model pembelajaran kolaboratif saat pembelajaran sehingga terbangun kecerdasan dalam berkomunikasi antarsesama.
  3. REFLEKTIF : Selalu mengadakan refleksi di setiap akhir pembelajaran.
  4. INOVATIF : menyajikan suatu tantangan dan batasan dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik akan berusaha mencari solusi alternatif.
  5. BERPIHAK PADA MURID : Memberikan kesempatan untuk berdiskusi, mengenali karakter murid lebih awal sebelum kegiatan pembelajaran, guru menjadi fasilitator dan mediator.

Dengan berbekal nilai tersebut, maka seorang guru bisa mewujudkan harapan Pendidikan seperti yang tercantum di atas, yaitu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

          Selain pemahaman terhadap dasar-dasar pemikiran KHD dan berbekal nilai-nilai seorang guru penggerak, diperlukan juga membuat sebuah visi dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Seorang guru penggerak harus memiliki visi yang jelas demi kemajuan Pendidikan. Peran seorang guru penggerak adalah untuk menjadi agen transformasi Pendidikan Indonesia. Visi tersebut bisa terwujud jika seorang guru penggerak memahami betul konsep manajemen perubahan yang diperlukan. Salah satu pendekatan manajemen perubahan yang bisa dijadikan pedoman adalah pendekatan INKUIRI APRESIATIF (IA) dengan tahapan BAGJA. BAGJA merupakan sebuah akronim dari suatu model manajemen perubahan yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif (IA) berbasis kekuatan. Tahapan BAGJA, yaitu : Buat Pertanyaan Utama, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi. Dengan melakukan analisis melalui tahapan BAGJA diharapkan bisa menyediakan lingkungan belajar agar murid dapat mendalami keterampilan yang dibutuhkan dalam proses pencapaian tujuan akademik dan non-akademik mereka. Selain itu, dapat melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

           Apakah cukup hanya berbekal memahami materi di atas saja? Tentu tidak! Masih ada satu materi lagi yang memiliki hubungan erat dalam mewujudkan Pendidikan yang dapat memberikan keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Materi tersebut adalah budaya positif berbasis disiplin positif bukan berbasis hukuman. Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku murid, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari. Tujuan akhir dari disiplin adalah agar murid dapat memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri serta menghargai orang lain. 

Disiplin sebaiknya merupakan hal-hal berikut ini, yaitu :

  1. Fokus dalam mengoreksi dan mendidik
  2. Mendorong tanggung jawab dan disiplin diri
  3. Jangan pernah merusak atau membahayakan martabat pelajar maupun pendidik

Disiplin positif bukanlah :

  1. Membiarkan peserta didik melakukan apa pun yang mereka inginkan
  2. Tentang tidak memiliki aturan, batasan atau harapan
  3. Tentang reaksi jangka pendek
  4. Hukuman alternatif untuk menampar, memukul atau mempermalukan.

Disiplin positif bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pembuatan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas terutama pada saat awal semester baru, saat ada murid yang melakukan hal yang tidak sesuai kesepakatan, sebelum menjalankan aktivitas baru, serta ketika awal masuk sekolah setelah libur panjang. Adapun panduan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah sebagai berikut.

  1. Tanya pendapat murid (Murid akan merasa dibutuhkan dan dianggap ketika guru melibatkan mereka dari awal kegiatan).
  2. Tanyakan ide dari murid untuk mencapai kelas impian (Murid akan merasa dilibatkan dalam mengatur kelas. Ini lebih efektif daripada menyampaikan hal apa saja yang dilarang atau tidak boleh dilakukan).
  3. Ambil kesimpulan dari ide murid (Perjelas kesepakatan kelas melalui kegiatan diskusi untuk mendapatkan umpan balik dari murid).
  4. Ubah ide menjadi kesepakatan kelas (Buatlah poster yang berisikan kesepakatan kelas yang disetujui di akhir kegiatan diskusi. Hindari penggunaan kata jangan dan dilarang. Sebaiknya menggunakan kata yang positif sebagai panduan tingkah laku).
  5. Tanda tangani kontrak kesepakatan kelas (Guru bersama murid menandatangani poster yang dibuat. Untuk murid PAUD bisa menggunakan cap tangan).
  6. Lihat bersama poster kontrak kesepakatan (Lakukan refleksi secara rutin terkait kontrak kesepakatan kelas yang sudah disusun. Tanyakan pada murid terkait perkembangan atau apa perlu direvisi. Apabila ada yang melanggar kesepakatan baik guru maupun murid diperlukan tindakan berupa disiplin positif).

Catatan : Kesepakatan kelas tidak perlu terlalu banyak sehingga mudah dipahami dan mudah untuk dilakukan.

Semoga dengan membuat kesepakatan kelas dapat mewujudkan budaya postif di sekolah serta dapat meningkatkan hubungan antara guru dan murid. Hubungan guru dan murid adalah faktor penting dalam membangun budaya sekolah yang baik.

Budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik diperlukan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Penerapan budaya positif sangat diperlukan dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Ada nilai kejujuran, nilai tanggung jawab, nilai moral, nilai sosial, peningkatan kepercayaan diri, saling menghargai dan bertoleransi. Semua nilai tersebut sangat berkaitan dalam penerapan budaya positif di sekolah. Demi mewujudkan budaya positif di sekolah diperlukan landasan pemikiran KHD tentang Pendidikan dan pengajaran, kodrat anak dan kodrat zaman, budi pekerti, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak melalui pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA. Semua itu saling mendukung satu sama lainnya. Seorang guru penggerak diharapkan mampu menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah melalui role model maupun keteladanan. Menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah dapat dilakukan dengan langkah kecil dari sebuah kelas melalui kesepakatan kelas kemudian diimbaskan ke dalam satu tingkatan kelas dilanjutkan pengimbasan ke semua tingkatan kelas sehingga menjadi budaya positif sekolah.

 

Tuntas sudah modul 1 dalam Pendidikan Guru Penggerak. Modul 1 memiliki 4 sub modul yang merupakan pegangan bagi seorang guru penggerak dalam mewujudkan merdeka belajar. Tidak ada sesuatu yang mudah, semuanya memerlukan sebuah proses. Proses yang baik akan mewujudkan impian yang diinginkan. Impian bersama dalam dunia Pendidikan saat ini adalah melahirkan murid dengan profil pelajar Pancasila.

Demikian koneksi antar materi dalam modul 1 baik refleksi pemikiran KHD, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak maupun pengantar budaya positif. Kurang lebihnya mohon maaf. Mohon perkenan bapak/ibu untuk meninggalkan komentar demi perbaikan menulis artikel ke depannya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

 

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

2. Ditjen GTK Kemendikbud

3. Fasilitator Bapak Yuli Cahyono dari P4TK PENJASBK yang selalu membimbing saya.

4. Pendamping saya dalam PGP, Bapak I Gede Eka Saputra yang selalu sabar mendampingi.

5. Teman-teman kelompok 1 di kelas A yang selalu berbagi ilmu.

6. Kepala SMP Negeri 3 Denpasar atas segala dukungan yang diberikan.

7. Rekan sejawat yang selalu memotivasi.

8. Keluarga tercinta atas toleransi, kerja sama, dan motivasi yang diberikan.