Rabu, 14 April 2021

Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran (K.A.M. Modul 3.1 PGP)

 


Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara selaku pendiri Perguruan Taman Siswa yang terkenal  dengan semboyan Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani artinya di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi/dorongan, di belakang memberi dorongan.  Berdasarkan hal tersebut, maka guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutnya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Pratap triloka sangat mempengaruhi dalam pengambilan sebuah keputusan supaya dapat mengayomi lebih banyak. Seorang pemimpin (guru) harus mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya (murid), seorang pemimpin (guru) harus mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya (murid), dan seorang pemimpin (guru) harus mampu memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (murid) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki.  

Seorang guru penggerak diharapkan memiliki nilai- nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif, dan berpihak pada murid. Perlahan nilai tersebut sudah mengendap dalam diri saya sehingga ketika harus mengambil suatu keputusan seyogyanya bisa berpihak pada murid. Terkadang pendidik mengalami dilema etika, yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Namun berpegang pada nilai dalam diri diharapkan bisa melakukan pertimbangan yang matang sebelum diputuskan. Seorang pendidik dapat memberikan tuntunan  agar murid dapat mengambil keputusan yang tepat  dan bertanggung jawab.

Coaching sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Coaching dianggap sebagai sebuah kegiatan yang memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proses lainnya. Dalam hal ini,  dengan sesi coaching yang ditekankan pada bertanya reflektif dan mendalam, seorang coach menginspirasi coachee untuk menemukan jawaban-jawaban sendiri atas permasalahannya. Jawaban yang diberikan oleh coachee haruslah mengacu pada 9 langkah dalam pengambilan keputusan supaya bisa dipertanggungjawabkan secara moral maupun hukum.

Guru sebagai pemimpin pembelajaran dituntut untuk bisa menjalankan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Selain itu, di dalam mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin (guru) harus selalu menyelaraskan dengan visi dan misi yang telah disusun dan disepakati bersama, agar apa yang diputuskan jelas dan terarah. Utamanya dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid sehingga terwujud merdeka belajar.

Keputusan yang dibuat oleh guru tanpa memandang 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan akan berdampak pada masa depan murid. Keputusan yang tepat akan menjadikan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Sebaliknya keputusan yang tidak tepat akan memberikan dampak negatif pada psikis murid yang akan selalu dikenangnya seumur hidupnya. 

KESIMPULAN :

Perbedaan Dilema Etika dan Bujukan Moral :
  • Dilema etika atau benar vs benar adalah sebuah situasi yang terjadi di mana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.
  • Bujukan moral atau benar vs salah adalah sebuah situasi yang terjadi di mana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan. 

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini.

1.      Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.      Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.      Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Dalam pengambilan sebuah keputusan ada tiga prinsip yang melandasinya. Ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut yaitu. 

1.      Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.      Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.      Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Ada sembilan langkah pengambilan keputusan, yaitu :

1.     Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.      Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.      Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola.

5.      Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

6.      Melakukan Prinsip Resolusi.

7.      Investigasi Opsi Trilema.

8.      Buat Keputusan.

9.      Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. 

SALAM SELAMAT DAN BAHAGIA

 #GuruPenggerak

#MerdekaBelajar

#IndonesiaMaju

#BanggaMenjadiGuru

#MuridkuPenyemangatku

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

2. Ditjen GTK Kemendikbudristek RI.

3. Fasilitator Bapak Yuli Cahyono (Pak Yoel) dari P4TK PENJASBK yang selalu sabar membimbing saya.

4. Pendamping saya dalam PGP, Bapak I Gede Eka Saputra yang selalu sabar mendampingi.

5. Teman-teman kelompok 1 di kelas A yang selalu berbagi ilmu.

6. Kepala SMP Negeri 3 Denpasar atas segala dukungan yang diberikan.

7. Rekan sejawat yang selalu memotivasi.

8. Keluarga tercinta atas toleransi, kerja sama, dan motivasi yang diberikan. 


Calon Guru Penggerak Kota Denpasar

Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd.

SMP Negeri 3 Denpasar


Jumat, 09 April 2021

Demonstrasi Kontekstual "Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran"

 


Sebelum menjawab pertanyaan pemandu, saya akan sajikan ringkasan materi pada modul 3.1. Ringkasan ini diharapkan dapat menyamakan persepsi antara penulis dan pembaca tentang teori maupun konsep yang melandasinya. Ringkasan materi yang disajikan adalah perbedaan dilema etika dengan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip yang melandasi, dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

 

A.      Perbedaan Dilema Etika dengan Bujukan Moral

Dilema Etika (Benar vs Benar)

è Situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan.

Bujukan Moral (Benar vs Salah)

è Situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Melakukan hal yang salah walaupun untuk alasan yang baik tetap saja salah, contohnya menyontek dan berbohong.

 

B.       Empat Paradigma Pengambilan Keputusan

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term)

 

C.      Tiga Prinsip yang Melandasi Pengambilan Keputusan

Ketiga prinsip yang seringkali membantu  dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini (Kidder, 2009, hal 144) adalah :

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)


D. Sembilan Langkah Pengujian Pengambilan Keputusan
Berikut adalah sembilan langkah yang sebaiknya dilakukan sebelum memutuskan sesuatu.

1.    Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2.      Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.      Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.      Pengujian benar atau salah

a.       Uji Legal

b.      Uji Regulasi/Standar Profesional

c.       Uji Intuisi

d.      Uji Halaman Depan Koran

e.       Uji Panutan/Idola

5.      Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

6.      Melakukan Prinsip Resolusi

7.      Investigasi Opsi Trilema

8.      Buat Keputusan

9.      Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ringkasan materi di atas akan menjadi bekal berdiskusi dan juga bekal pengetahuan untuk menghadapi dilema sesungguhnya di lapangan.

           Berikut adalah pertanyaan pemandu dalam demonstrasi kontekstual pada modul 3.1. Pertanyaan pemandu untuk jurnal monolog ada 4 buah, yaitu sebagai berikut.

1.   Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

2.  Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

3.      Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

4. Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Keempat pertanyaan di atas akan saya jawab dalam bentuk paragraf berupa narasi. Saya sangat berharap tulisan ini bisa bermanfaat dan juga dapat memberikan pencerahan bagi pembaca.

           Bapak/Ibu guru hebat, setiap materi maupun konsep yang disajikan pada program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) pasti menyajikan hal tak terduga sebelumnya. Mulai dari modul 1, modul 2, dan sampai modul 3.1 saat ini. Ketika saya mencoba mencari materi tersebut dengan cara googling, tidak ada terjamah di search engine. Ternyata materi di modul adalah buku kuno dari Ki Hajar Dewantara dan juga saduran dari jurnal internasional. Sungguh hal yang luar biasa bukan? Di mana dan kapan lagi kita mendapatkan tambahan ilmu baru dan bagus selain di pendidikan guru penggerak. Namun sayangnya tidak semua guru berkesempatan untuk mengikuti pendidikan ini karena ada prasyarat dan ujian yang harus dilalui. Oleh karena itu, saya berkeinginan untuk membagi ilmu di pendidikan ini kepada guru-guru yang belum berkesempatan untuk mengikuti PGP.

       Cara saya untuk mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan di program pendidikan guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal saya adalah dengan membagikan tulisan di blog, mengunggah video di youtube, atau melakukan diskusi secara langsung maupun tidak langsung ketika ada kesempatan. Melalui ketiga cara tersebut saya harap dapat membantu rekan guru hebat untuk ikut menikmati materi maupun konsep yang diberikan selama pendidikan guru penggerak. Terutama dalam materi yang berkaitan tentang menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika.

     Modul 3.1 pada PGP tentang “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran” membahas tentang dilema etika, 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah seperti yang sudah saya sajikan di awal tulisan ini. Pemimpin pembelajaran adalah orang yang bertanggung jawab terhadap suksesnya proses pembelajaran, dalam hal ini adalah guru.  Langkah-langkah awal yang akan saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran adalah sebagai berikut. (1) Memastikan diri bahwa saya benar-benar memahami materi dan konsep. Hal itu bagi saya sangat penting karena teori yang didapatkan dijadikan landasan atau pijakan pada langkah selanjutnya. Selain itu, untuk meminimalisasi kemungkinan miskonsepsi di pertengahan jalan. (2) Setelah meyakinkan diri untuk paham maka selanjutnya saya akan membulatkan tekad dengan mengumpulkan energi positif melalui Teknik STOP. Hal itu penting bagi saya karena pemusatan pikiran atau fokus sangat diperlukan sebelum memutuskan sesuatu. Pikiran yang jernih, suasana hati yang tenang akan menjadi bekal untuk pengambilan keputusan yang berkualitas. (3) Langkah selanjutnya adalah mengkaji kasus secara mendalam sebelum diambil sebuah keputusan. Layaknya polisi yang melakukan olah TKP. Begitulah kira-kira seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran ketika bertindak sebagai pengambil keputusan. Diperlukan investigasi yang mendalam supaya tidak salah dalam menafsirkan sebuah kasus. (4) Langkah terakhir adalah menerapkan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan yang termasuk di dalamnya ada 4 paradigma dan 3 prinsip. Kesembilan langkah itu adalah pemandu kita sebelum memutuskan sesuatu. Jadi akan meminimalisasi kesalahan dalam pengambilan keputusan.

         Semua materi/teori/konsep tidak akan berguna jika tidak diterapkan. Namun, menerapkan semua itu tidak semudah menuliskannya. Diperlukan sebuah komitmen dan kesadaran diri untuk memulai sesuatu apapun. Tanggung jawab dan kedisplinan dalam mengerjakannya sangat diperlukan demi kesuksesan suatu program. Mulai kapan saya akan menerapkan langkah-langkah tersebut? Pertanyaan yang cukup sulit bagi saya, namun akan coba saya kupas dalam tulisan ini. Kapan pun ketika kita dihadapkan suatu permasalahan yang cukup pelik yang membutuhkan suatu pemikiran yang kritis dan suatu penalaran yang cukup tinggi. Ketika itulah konsep/materi/teori pengambilan keputusan ini tepat untuk diterapkan. Saya sangat berharap, ketika kasus itu datang menghampiri saya, saya bisa mengambil keputusan yang tepat berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.

         Tentu tidak akan semudah membalikan telapak tangan ketika berhadapan dengan suatu kasus dan hanya berbekal teori. Saya masih memerlukan pendamping sebagai konsultan saya. Pendamping yang sekiranya bisa membantu memberikan pencerahan di kala mengalami kebuntuan. Bagi saya pribadi, pendamping yang tepat dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah wakasek bidang kurikulum. Mungkin bagi saya pribadi ketika berpedoman dengan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah, keputusan yang saya ambil sudah efektif. Namun, diperlukan refleksi dan umpan balik dari orang lain yang saya anggap memahami kasus yang dihadapi. Wakasek bidang kurikulum adalah orang yang sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi guru, murid, orang tua, dan kurikulum. Asam garam beliau akan membantu saya dalam menjadi teman diskusi untuk menentukan apakah langkah-langkah yang saya ambil telah tepat dan efektif. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk berdiskusi juga dengan rekan sejawat dan atasan yang lain tergantung dengan konteks permasalahan yang dihadapi.

        Bapak/ibu guru hebat, tulisan naratif ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan saran dan kritik dari Bapak/Ibu demi perbaikan ke depannya. Tak lupa juga saya mohon maaf apabila dalam penyampaian narasi ini ada hal yang kurang berkenan di hati Bapak/Ibu guru hebat dan pembaca. Semoga blog ini bisa bermanfaat.

SALAM DAN BAHAGIA

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

2. Ditjen GTK Kemendikbud RI.

3.Fasilitator Bapak Yuli Cahyono (Pak Yoel) dari P4TK PENJASBK yang selalu sabar membimbing saya.

4. Pendamping saya dalam PGP, Bapak I Gede Eka Saputra yang selalu sabar mendampingi.

5. Teman-teman kelompok 1 di kelas A yang selalu berbagi ilmu.

6. Kepala SMP Negeri 3 Denpasar atas segala dukungan yang diberikan.

7. Rekan sejawat yang selalu memotivasi.

8. Keluarga tercinta atas toleransi, kerja sama, dan motivasi yang diberikan. 


 #MerdekaBelajar

#GuruPenggerak

#IndonesiaMaju

#BanggaMenjadiGuru

#MuridkuPenyemangatku

Denpasar, 9 April 2021

Calon Guru Penggerak Angkatan 1               

                                      

Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd.

 

 


Senin, 08 Maret 2021

PEMBELAJARAN SOSIAL-EMOSIONAL (MURIDKU PENYEMANGATKU)

 


 

PEMBELAJARAN SOSIAL-EMOSIONAL

“MURIDKU PENYEMANGATKU”

 

Oleh :

Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd. (SMP Negeri 3 Denpasar)

Calon Guru Penggerak Kota Denpasar

 

Selamat pagi bu guru… Ahhh rasanya aku sangat merindukan suara itu. Ingin rasanya ku mendengarkan secara tatap muka sapaan yang pastinya berisi senyuman sumringah mereka. Murid-muridku adalah penyemangatku untuk selalu belajar mengembangkan diri. Murid-muridku adalah kebanggaanku dan tentunya mereka adalah salah satu sumber kebahagiaanku. Guru akan tetap menjadi guru, sedangkan murid tidak akan tetap menjadi murid. Mereka akan terus berkembang dan akan menemukan jalan kesuksesan masing-masing. Belajar itu adalah sebuah proses, proses yang akan selalu mereka kenang, tidak hanya berdampak pada saat ini tetapi juga kelak dikemudian hari. Aku layaknya seorang manusia biasa yang mempunyai emosi, wajar bukan ketika ada murid yang melanggar kesepakatan berkali-kali untuk dihukum dan dimarah? Ya itu benar, tetapi benar kala itu. Kala paradigma lama masih berlaku. Saat ini paradigma baru sedang kita jalani. Tidak ada lagi istilah hukuman yang ada budaya positif. Tidak ada lagi kemarahan, yang ada mengelola emosi dan fokus melalui kesadaran penuh. Beruntung sekali bisa mengikuti program guru penggerak. Banyak materi baru yang didapatkan, wawasan bertambah, dan pikiran mulai terbuka. Tentunya hal tersebut tidak akan saya simpan sendiri. Akan saya bagikan melalui tulisan sederhana ini -koneksi antar materi. Selamat membaca! Semoga bermanfaat.

 

REFLEKSI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA (KHD)

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.

 

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Lumpkin (2008) menyatakan bahwa guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka memercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka.

Guru adalah tukang kebun, yang merawat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan di dalam diri murid-muridnya. Guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan lingkungan di mana murid berproses menumbuhkan nilai-nilai dirinya tersebut. Guru dapat mengembangkan lingkungan yang sifatnya fisik (ekstrinsik) maupun yang sifatnya psikis (intrinsik). Emosi adalah bagian utama dari lingkungan psikis yang dapat dipengaruhi dan harus dipertimbangkan pengembangannya oleh guru.

 

VISI DAN MISI GURU PENGGERAK

Menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal yang umum diinginkan semua pihak. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat yang mudah untuk diwujudkan karena diperlukan perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Di sekolah, pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik yang telah ada di sekolah, mencari cara agar bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, sehingga kelemahan, kekurangan dan ketidak-adaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif tersebut, sekolah kemudian menyelaraskan hal positif atau kekuatan tersebut  dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas sekolah.

 

PENGANTAR BUDAYA POSITIF

Kita seringkali memandang bahwa hukuman adalah bentuk yang sama dengan proses pen-disiplin-an dan memberikan hukuman sebagai salah satu langkah dalam proses disiplin murid. Padahal, disiplin dan hukuman memiliki arti yang berbeda dan memberikan efek yang sangat berbeda dalam pembentukan diri murid. 

Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku  murid, disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari.

Tujuan akhir dari disiplin adalah agar siswa memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri dan orang lain. Disiplin sebaiknya juga menerapkan hal-hal berikut (1) fokus dalam mengoreksi dan mendidik, (2) mendorong tanggung jawab dan disiplin diri, dan (3) jangan pernah merusak atau membahayakan martabat pelajar atau pendidik.

 

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.  Pembelajaran berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana guru merespon kebutuhan belajar tersebut. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid, dan profil belajar murid.

 

PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan. Artinya, kita dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing) dan latihan bergerak sadar (mindful movement).

Well-being (kesejahteraan hidup) adalah sebuah kondisi di mana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Menurut Mcgrath & Noble, 2011, murid yang memiliki tingkat well-being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stress dan terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab.

Gambar 1. Hubungan Mindfulness dan Empati dan Resiliensi (Hawkins, 2011)

Perasaan aman dan rasa percaya dalam diri murid akan membantu murid dalam proses pembelajaran dan relasi dengan guru di sekolah. Murid dapat menumbuhkan kesadaran diri tentang perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai yang dimiliki dengan lebih baik dan kesadaran sosial yang lebih baik yang didasarkan pada perhatian yang bertujuan akan membantu murid dalam memproses informasi secara lebih baik dalam proses pembelajaran.  Jika murid dapat mengikuti proses pembelajaran secara lebih baik, maka secara perlahan tumbuh optimisme atau rasa percaya dalam dirinya.

 


Gambar 2. Pembelajaran Sosial dan Emosional Berbasis Kesadaran Penuh 

Latihan STOP dapat membantu dalam mengelola emosi di saat berada pada situasi menantang maupun tertekan. STOP adalah kepanjangan dari (1) Stop, yaitu berhenti artinya kalian hentikan segala sesuatu yang sedang kalian lakukan; (2) Take a deep breath, yaitu tarik nafas dalam artinya sadari nafas masuk, sadari nafas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Lakukan 2-3 kali; (3) Observe, yaitu amati artinya amati apa yang sedang kalian rasakan pada tubuh. Amati perut yang mengembang sebelum membuang nafas. Amati perut yang mengempes saat kalian membuang nafas; (4) Proceed, yaitu lanjutkan artinya latihan selesai, silahkan lanjutkan kembali aktivitas kalian dengan perasaan yang lebih tenang.



Gambar 3. Lima Kompetensi Sosial-Emosional CASEL

 Dengan mengenali keenam emosi dasar pada manusia (takut, jijik, marah, kaget, bahagia, sedih) akan sangat membantu dalam mengelola emosi tersebut serta mencari jalan keluar untuk mengatasinya. Latihan STOP adalah satu cara untuk mengelola emosi apabila dilakukan dengan kesadaran penuh. Selain itu, penting juga untuk menumbuhkan kesadaran diri baik dalam pengelolaan emosi maupun pengelolaan diri dalam mengelola fokus. Kesadaran sosial juga sangat diperlukan karena akan mampu membangun rasa empati dan dapat menumbuhkan kemampuan untuk menempatkan diri. Daya lenting dalam CASEL juga memiliki andil yang besar. Resiliensi atau daya lenting, yaitu kemampuan individu untuk merespons tantangan atau trauma yang dihadapi dengan cara-cara sehat dan produktif. Terakhir tentang pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Jadi CASEL, STOP, dan enam emosi dasar manusia memiliki keterkaitan yang sangat kuat satu sama lain.

Pada hakekatnya semua materi yang disajikan dalam Pendidikan Guru Penggerak saling berhubungan dan saling bergantungan satu sama lain. Pengetahuan dan wawasan yang didapatkan akan menjadi dasar untuk mempraktekkannya di lapangan. Semoga guru penggerak bisa menjadi agen transformasi Pendidikan Indonesia.

 

#MerdekaBelajar

#GuruPenggerak

#BanggaMenjadiGuru

#MuridkuPenyemangatku

 

Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

2. Ditjen GTK Kemendikbud RI.

3. Fasilitator Bapak Yuli Cahyono (Pak Yoel) dari P4TK PENJASBK yang selalu sabar membimbing saya.

4. Pendamping saya dalam PGP, Bapak I Gede Eka Saputra yang selalu sabar mendampingi.

5. Teman-teman kelompok 1 di kelas A yang selalu berbagi ilmu.

6. Kepala SMP Negeri 3 Denpasar atas segala dukungan yang diberikan.

7. Rekan sejawat yang selalu memotivasi.

8. Keluarga tercinta atas toleransi, kerja sama, dan motivasi yang diberikan. 

 

Denpasar, 8 Maret 2021

Calon Guru Penggerak Angkatan 1

 

Putu Sri Utami Dewi, S.Pd., M.Pd.